Cerita merangsang gara gara gatal di pinggang – Aku bekerja sebagai sales assistant di sebuah supermarket Y di Bandung. Di tempat kerjaku ada seorang cewek bernama Rista. Rista adalah cewek yang paling akrab denganku. Segala masalahnya akan dia berRistahukan padaku. Rista memang cantik, kulitnya putih, matanya bulat, buah dadanya pun membulat, tidak terlalu besar tapi cukup menantang membuat setiap laki-laki yang dekat dengannya ingin selalu menjamahnya. Siapapun yang melihat tubuh Rista pasti naik nafsu syahwatnya. Pantat Rista mengiurkan juga. Rambutnyapun panjang sebahu.
Suatu hari Rista datang padaku”, Fer belakang badan Rista gatal-gatal nih”, Rista memberRistahuku akan masalahnya.
“Tolong gosokkan ya, Fer” Rista menyuruhku.
“Kalau begitu kemarilah”, balasku dengan sedikit terkejut.
“Disini saja, di dalam gudang lebih nikmat” Rista memberitahuku dengan suara yang amat lembut dan begitu manja. Hatiku jadi cair.
“Fer” Rista menarik tanganku menuju ke dalam gudang yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
Kemudian Rista mengunci pintu gudang itu, serta mengambil bedak antiseptik di rak yang berdekatan, lalu mengulurkannya kepadaku. Aku tak sungkan-sungkan lagi, terus saja menaburkan bedak itu di atas telapak tanganku. Rista menarik baju yang dipakainya ke atas hingga sebatas tengkuk. Aku menelan ludah melihat ke belakang badan Rista, yang selama ini tak pernah aku lihat tanpa busana. Aku menepuk bedak yang ada di tanganku ke atas badan Rista. Hangat badannya. Aku mulai menggosok. Sesekali Rista kegelian, ketika aku mengurutkan jariku pada alur di tengah belakang badan Rista. Aku menggosok rata. Rista meraba-raba kancing BH-nya, lalu dilepaskannya, maka terurailah tali BH-nya itu di belakang badannya itu. berdesir darahku, aku menelan air liur, melihat aksi Rista yang berani itu tadi. Aku terus menggosok, dengan hati yang berdebar-debar. Aku merasa batang penisku sudah mulai mengeras. Aku merasa tak tahan. Tengah menggosok belakang badan Rista, tanganku secara perlahan-lahan merayap ke dada Rista.
“Hei! Apa-apaan nih”, Rista melarang sambil menepuk tanganku.
“Ohh! sorry”, aku meminta maaf.
Tanganku kembali ke bekakang. BH yang Rista pakai masih melekat di dadanya, menutupi buah dadanya yang mungil itu. Aku terus menggosok, kali ini turun sampai ke batas pinggang. Aku memberanikan diri mengurut ke dalam rok Rista, tetapi Rista menepuk lagi tanganku.
“Jangan!”, larang Rista lagi.
“Sudah hilang belum gatal itu?”, Tanyaku pada Rista.
“Belum!” jawab Rista pendek.
Aku merasa semakin terangsang, batang penisku semakin mengeras dan mula tegang! Aku coba lagi untuk meraba ke dada Rista, kini aku telah dapat memegang buah dada Rista yang lembut itu, yang tertutup dengan BH berwarna putih. Rista tidak lagi menepuk tanganku tetapi dia memegang tanganku yang aku takupkan pada payudaranya itu. Aku mulai meremas buah dada Rista. Rista menggeliat geli sambil tangannya memegang pergelangan tanganku. Rista nampak sudah mula merasa terangsang. Aku mencium tengkuk Rista. Dia masih menggeliat-geliat akibat remasan serta ciumanku. Buah dadanya aku rasa sudah semakin menegang. Jariku kini memainkan peranan memilin-milin puting susu Rista pula! Aku sadari tadi memeluk Rista dari belakang. Batang penisku yang keras menonjol itu aku gesek-gesekkan pada alur pantat Rista. Rista ketawa kecil, merangsang sekali! Rista membuka kancing bajunya dan terus menanggalkannya berserta BH-nya dan mencampakkannya di atas lantai.
Kini payudara Rista tak tertutup apa-apa lagi. Aku terus meremas-remas dan membalikkan badan Rista supaya berhadapan denganku. Rista menciumku rakus sekali, sambil mengulum-ngulum lidahku. Akupun begitu juga membalas dengan rakus serangan Rista. Aku menanggalkan bajuku. Rista mencium dadaku, perutku. Aku tetap mengecup-ngecup buah dada nya yang sudah mengeras tegang. Tanganku menekan-nekan pantatnya. Batang penisku semakin menegang. Tiba-tiba Rista berlutut, lalu membuka retsleting celanaku. Dia menarik keluar batang penisku yang tegak keras. Rista merasa kagum melihat batang penisku yang menegang secara maksimal itu. Rista menguak rambutnya ke belakang dan meng-”karaoke” batang kejantananku. Dia menggengam dengan rapi. Sambil mengulum secepat-cepatnya.
Rista mengarahkan batang penis ke matanya, hidungnya, ke pipinya. Rista mencium sekRistar batang penisku. Aku merasa nikmat sekali. Rista terus mengulum penisku hingga ke pangkal makin lama semakin cepat. Aku merasa kepala penisku terkena anak tekak Rista. Ngilu rasanya! Aku juga membantu Rista dengan mendorong dan menarik kepalanya.
“Rista, sudah hampir keluar! Sudah hampir keluar! Rista sengaja berlagak tak tahu saja, ketika aku katakan maniku sudah hendak keluar. Rista masih mengulum. Air maniku tersemprot memenuhi rongga mulut Rista. Dia lantas mencabut keluar penisku lalu menjilat-jilat air maniku. Dia nampaknya menikmati sekali. Penisku jadi lembek kembali!
“Aik! belum apa-apa sudah lembek”.
Rista mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Rista tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Rista duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Rista sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya. Aku mencium sekRistarnya. Rista meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Rista. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Rista.
“Argh, argh, argh!” Rista mengerang perlahan. Vaginanya terlihat basah sekali. Aku meletakkan kepala penisku ke pintu vaginanya. Aku sodok sedikit, “Argh!” Rista mengerang lagi. Laku aku tekan lagi. ” Yes!” suara Rista perlahan. Aku menyodok lagi dalam sedikit dan terus ke pangkal. Aku mendorong dan menarik berulang kali. Rista makin terlihat lemas dan nikmat. Aku merasa kehangatan lubang vagina Rista. Rista mencabut penisku keluar. Dia turun dari atas meja dan mendorongku telentang lalu duduk di atas badanku dan memasukkan lagi penisku ke dalam lubang vaginanya itu. Dia mengayun ke atas dan ke bawah.
Tak lama dia tarik keluar lagi penisku. Rista kini agresif. Aku mendorongnya telentang lagi. Rista merapatkan payudaranya dengan kedua belah tangannya.
“Masukin di celah susuku dong! Masukin di celah susu ah..!” Rista menyuruhku. Aku tidak sungkan-sungkan lagi terus melakukannya tapi sebentar saja. Aku duduk dan Rista masih telentang, pahaku di bawah paha Rista, aku sodok lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku mengayun dengan perlahan. Licin dan sedap rasanya Rista bangun dan bertiarap di atas meja, kakinya lurus ke lantai menungging! Akupun berdiri lalu membuat ‘dog style’. Aku pegang kiri dan kanan pantat Rista dan mengayun lagi. Aku kemudian menyangkutkan sebelah kaki Rista di atas bahuku dalam posisi telentang. Aku sodok lagi tarik dan keluar dorong dan masuk ke dalam vaginanya, pokoknya malam itu kami merasakan kepuasan bersama dengan mencoba segala posisi. Oh Rista kapan kita mengukir cerita sex indah kayak gini lagi, apakah pantatmu kini gatal ?


